Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia.

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

source by : http://bakinonline.com/artikel-hutan-untuk-ketahanan-iklim/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *